Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Foto Bersama Bapak Muhajir Effendy

Para Peserta Pelatihan Guru Foto Bersama Bapak Muhajir Effendy

Saturday, September 19, 2020

TIPS PEMBELAJARAN DARING YANG AMAN DAN NYAMAN

Penyebaran pandemi virus corona atau COVID-19 di Indonesia membuat banyak sekolah menghentikan proses pembelajaran tatap muka. Sebagai gantinya, pemerintah menerapkan pembelajaran jarak jauh selama COVID-19. Bagaimanapun juga, Pembelajaran jarak jauh selama COVID-19 membutuhkan bantuan teknologi yang mumpuni dan dapat diakses dengan mudah. Selain itu, para murid juga mesti siap beradaptasi dengan perubahan pembelajaran yang diatur oleh sekolah. Lantas, bagaimana tips Pembelajaran jarak jauh selama COVID-19? Yuk, simak beberapa tips di bawah ini!

Atur Manajemen Waktu

Aturlah waktu belajar dengan teratur. Kerjakan dengan fokus tugas yang diberikan oleh para guru. Hal ini lebih mudah dijalani jika pihak sekolah memberikan batasan jadwal akses daring kepada murid-muridnya. Hal ini akan berbeda jika penyedia layanan pendidikan memberikan fleksibilitas penuh kepada pelajar. Para siswa mesti mengatur sendiri jadwal belajar mereka. Bagi orang-orang yang belum terbiasa belajar mandiri, biasanya akan mengerjakan tugas-tugas sekolah di menit-menit terakhir tenggat waktu yang ditetapkan. Oleh sebab itu, membiasakan diri untuk belajar dan mengerjakan tugas di awal waktu adalah keterampilan yang perlu kamu tanamkan selama melakukan remote learning.

Persiapkan Gadget yang Dibutuhkan

Kamu perlu mempersiapkan peralatan-peralatan apa saja yang dibutuhkan untuk melakukan pembelajaran jarak jauh selama COVID-19. Tidak semua sekolah sudah menyediakan layanan belajar daring yang memadai. Oleh karena itu, beberapa platform belajar daring dapat menjadi alternatif. Demikian juga perkakas gadget seperti komputer, smartphone, atau tablet menjadi penting, dan terutama juga jaringan internet yang baik. Tanpa hal ini akan sulit bagi kamu untuk bisa mengikuti setiap rangkain kegiatan belajar jarak jauh.

Jaga Komunikasi dengan Rekan-rekan Kelas

Bagi yang belum terbiasa melakukan remote learning, ia harus menyesuaikan diri untuk terus visibel dan berkomunikasi tanggap dengan pengajar atau rekan kelas lain. Jika dibutuhkan, perlu juga diadakan grup khusus untuk membahas tugas yang dibebankan pengajar. Kendati tidak harus dilakukan dengan tatap muka, komunikasi mesti terjalin dengan baik untuk menghindari kesalahpahaman. Gunakan momen-momen semacam ini untuk mengasah keterampilan komunikasi daring yang kamu miliki. Jika memang belum yakin dengan hasil tugas yang dikerjakan, segera hubungi pengajar atau guru pengampu yang bersangkutan. Lakukan sesegera mungkin untuk menunjukkan komitmen bahwa kamu tetap serius untuk belajar. Komunikasi dengan rekan-rekan kelas juga bisa membantu kamu menghilangkan kebosanan ketika belajar jarak jauh.

Belajarlah dengan Sungguh-sungguh

Kesalahan yang sering dilakukan siswa, dalam pembelajaran jarak jauh selama COVID-19 adalah tidak fokus ketika melakukan remote learning. Selama melakukan pembelajaran di internet, banyak sekali distraksi yang mengganggu proses pembelajaran. Godaan untuk menonton video, mengakses media sosial, hingga membaca-baca konten berita secara impulsif seringkali dilakukan tanpa rencana sebelumnya. Oleh sebab itu, penting bagimu untuk berusaha fokus dan konsisten selama waktu belajar yang ditetapkan. Hindari segala macam distraksi yang berpotensi mengganggu proses belajar. Jika memungkinkan, tetapkan ruang khusus untuk belajar dan menjauhkan diri dari gangguan anggota keluarga yang lain.

Nah, itu dia empat tips pembelajaran jarak jauh selama COVID-19. Kegiatan pembelajaran jarak jauh ini harus kita lakukan guna memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19. Semoga kegiatan pembelajaran bisa kembali seperti sedia kala. Teruslah belajar dan jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan, ya. Boleh juga nih ceritain gimana sih rasanya belajar jarak jauh yang beda dengan cara belajar kamu yang dulu.



JANGAN MEMBUNUH KARAKTER ANAK SEJAK DINI, KASIHAN! MEREKA BERHAK TUMBUH DAN BERKEMBANG.

Pernah mendengar teori tabula rasa? Teori ini sering kali dikonsumsi dalam pendidikan anak usia dini. Teori ini dikemukakan oleh John Locke, yang mana mengungkapkan bahwa anak lahir ibarat sebuah 'kertas kosong' yang mana membutuhkan orang dewasa untuk mengisi dan mewarnainya.

Anak dipandang tidak memiliki apa-apa saat mereka lahir, tanpa bekal kecerdasan, kemampuan dan lainnya, dianggap benar-benar kosong dan tidak berdaya. Bagi orang-orang yang menggunakan teori ini dalam pendidikan anak usia dini, maka anak usia dini dianggap tidak memiliki kekuatan lebih dalam proses perkembangannya dan orang dewasa bersifat absolut sebagai subjek pembentuk dalam membantu proses perkembangan pada anak usia dini tersebut.

Dalam rentang usia 0 hingga 6 tahun, berbagai aspek perkembangan anak usia dini mulai dari kognitif, sosial emosional, bahasa, dan lainnya berkembang dengan begitu pesat. Masa ini adalah masa awal anak membangun karakter dalam dirinya. Indikator yang kita sadari saat proses ini berlangsung adalah dengan munculnya perilaku anak seperti menaruh atensi berlebih pada sebuah hal yang baru, berceloteh akan suatu hal secara sederhana menurut persepsi mereka serta yang paling dekat dengan kita adalah dengan munculnya perilaku anak yaitu sering bertanya.

Anak akan menanyakan apa saja kepada orang dewasa atau teman sebaya yang mereka temui, hal ini dilakukan sebagai bentuk memperoleh informasi yang mereka butuhkan. Anak akan bertanya ketika telah melewati proses memberi atensi dan memiliki persepsi atas apa yang ingin ia ketahui sebelumnya. Bertanya adalah karakter anak yang perlu diasah. Dengan bertanya, anak yang semula 'kosong' seperti halnya konsep tabula rasa yang dibahas diawal akan menjadi terisi dan tak kosong lagi.

Sepakat dengan konsep yang dikemukakan oleh John Locke, Vygotski mengemukakan bahwa lingkungan mengambil peran yang begitu besar dalam proses perkembangan kognitif pada anak usia dini. Lingkungan disini bisa berupa keluarga, teman sebaya atau lingkungan tempat dimana anak tinggal. Oleh karena itu, lingkungan dapat dikatakan sebagai faktor terbesar dalam mempengaruhi terbentuknya karakter anak usia dini.

Ada beberapa kasus yang menjadi contoh dalam hal ini, pertama, pernahkah kita sebagai orang tua menemukan anak kita tiba-tiba mengucapkan kata-kata kotor padahal di keluarga tidak pernah diajarkan hal tersebut? Ternyata anak belajar kata tersebut dari teman sebayanya yang memang telah terbiasa mengucapkan hal tersebut.

Kedua, ada anak yang ketika di sekolah kita anggap sebagai anak yang berkarakter agamis sejak dini, ternyata di keluarga mereka memang telah dibiasakan untuk beribadah dengan rutin atau kita sebagai guru menemui anak murid yang cenderung pendiam dan sangat pasif ketika di sekolah? Ternyata hal tersebut terjadi karena karakter anak telah terbunuh sebelumnya oleh lingkungan tempat ia tinggal.

Dari begitu banyaknya faktor lingkungan dan pengaruhnya pada terbentuk atau terbunuhnya karakter anak sejak dini yang dapat kita sadari, ada beberapa hal yang sebenarnya kita anggap membentuk namun ternyata dapat membunuh karakter anak. hal berikut juga seringkali tidak kita sadari, diantaranya:

Pertama, abai dan acuh atas pertanyaan anak. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa anak bertanya adalah karena mereka ingin mengetahui sesuatu. Dalam proses ini, anak sangat membutuhkan respon yang positif dari orang di sekitarnya dengan memberikan respon atas apa yang ingin ia ketahui.

Pernahkah kita menemui fenomena anak yang awalnya sering sekali bertanya namun setelah pertanyaan tersebut diacuhkan malah mengakibatkan anak memilih untuk diam? Atau pernahkah kita berada di posisi sangat penasaran akan suatu hal dan kemudian menanyakannya kepada guru dan orang tua namun bukan alih-alih pertanyaan kita terjawab tapi kita malah disalahkan karena sering bertanya? Dan respon setelahnya, mengakibatkan kita cenderung enggan untuk kembali bertanya.

Secara tidak sadar, acuh terhadap pertanyaan anak dapat membunuh karakter anak. Coba kita ingat-ingat lagi bahwa semakin dewasa, bukankah secara alami intensitas pertanyaan yang keluar dari otak kita semakin berkurang? Kita menganggap susah sekali membuat pertanyaan atas suatu hal yang benar-benar tidak ketahui? Sebenarnya jawabannya adalah adanya karakter yang telah terbunuh secara tidak sadar dalam diri kita.

Kedua, mematahkan imajinasi anak. Pada masa golden age anak suka sekali berimajinasi. Imajinasi ini merupakan hal yang berkembang pada alam bawah sadar pada otak anak. ketika anak berimajinasi, ia akan mengajak siapa saja untuk menjadi lawan mainnya. Biasanya, orang tua akan menjadi objek bagi anak untuk mengungkapkan apa saja yang sedang berada di pikirannya saat itu, mengungkapkan apa saja yang sedang ia imajinasikan.

Fenomena kali ini biasanya terjadi pada orang tua yang terlalu realistis dan tidak mau menyelam pada dunia anak, ketika anak mereka berimajinasi dan menggunakan mereka sebagai objek, orang tua yang terlalu realistis akan melakukan hal yang mematahkan imajinasi anak. tentu, apabila hal ini terlalu sering dilakukan maka anak akan terbunuh karakternya. Mereka akan berhenti memikirkan hal-hal yang dianggap tidak realistis oleh orang tua mereka.

Apabila di sekolah biasanya terjadi pada anak yang biasa biasa saja namun berimajinasi ingin menjadi dokter, imajinasinya bisa dipatahkan oleh teman sebaya atau bahkan guru yang tidak menyukai anak tersebut karena dianggap imajinasinya terlalu tinggi. Dampaknya, bukan tidak mungkin anak tersebut akan mengubur dalam cita-cita atau imajinasinya tadi dan kehilangan karakter positif dalam drinya karena menganggap ia tidak akan mampu melakukan apapun ketika ia hanya seorang anak yang biasa-biasa saja.

Ketiga, menganggap anak tidak tahu apa-apa. Teori tabula rasa tak dapat selalu dibenarkan. Pemikiran bahwa anak lahir tanpa memiliki kecerdasan apa-apa itu tidak selalu benar. Menurut teori kognitif dari Piaget, anak memiliki kecerdasan bawaan yang merupakan keturunan dari orang tuanya. Menurut penelitian, kecerdasan ibu memiliki pengaruh 80% terhadap kecerdasan anak mereka.

Jadi sebenanrya, anak sudah memiliki yang namanya kecerdasan sejak lahir. Permasalahannya sekarang adalah banyak yang tidak mengakui akan hal tersebut sehingga dalam proses mendidik anak menjadi sangat over protective sehingga anak kehilangan atau tidak memiliki kuasa untuk membentuk karakter diri sesuai dengan apa yang ia mau.

Karakter pada anak usia dini ibarat sebuah identitas yang perlu diasah sejak dini pada anak. lingkungan baik itu keluarga, teman atau masyarakat yang berada dalam lingkup terdekat yang bersetuhan langsung dengan pribadi anak usia dini harus memahami bahwa pendidikan karakter, penanaman karakter itu penting sifatnya. Dengan kemudian memahami ada hal-hal yang dapat membunuh karakter anak usia dini yang jarang orang sadari, dapat bermanfaat berupa penanganan yang lebih bijak dalam hal pendidikan pada anak usia dini.

PENGERTIAN PROFESIONALISME UNTUK PROFESI GURU

Pengertian Profesionalisme Guru – Istilah profesionalisme guru tentu bukan sesuatu yang asing dalam dunia pendidikan. Secara sederhana, profesional berasal dari kata profesi yang berarti jabatan. Orang yang profesional adalah orang yang mampu melaksanakan tugas jabatannya secara mumpuni, baik secara konseptual maupun aplikatif. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan mumpuni dalam melaksanakan tugas jabatan guru.

Bila ditinjau secara lebih dalam, terdapat beberapa karakteristik profesionalisme guru. Rebore (1991) mengemukakan enam karakteristik profesionalisme guru, yaitu: (1) pemahaman dan penerimaan dalam melaksanakan tugas, (2) kemauan melakukan kerja sama secara efektif dengan siswa, guru, orang tua siswa, dan masyarakat, (3) kemampuan mengembangkan visi dan pertumbuhan jabatan secara terus menerus, (4) mengutamakan pelayanan dalam tugas, (5) mengarahkan, menekan dan menumbuhkan pola perilaku siswa, serta (6) melaksanakan kode etik jabatan.

Sementara itu, Glickman (1981) memberikan ciri profesionalisme guru dari dua sisi, yaitu kemampuan berpikir abstrak (abstraction) dan komitmen (commitment). Guru yang profesional memiliki tingkat berpikir abstrak yang tinggi, yaitu mampu merumuskan konsep, menangkap, mengidentifikasi, dan memecahkan berbagai macam persoalan yang dihadapi dalam tugas, dan juga memiliki komitmen yang tinggi dalam melaksanakan tugas. Komitmen adalah kemauan kuat untuk melaksanakan tugas yang didasari dengan rasa penuh tanggung jawab.

Lebih lanjut, Welker (1992) mengemukakan bahwa profesionalisme guru dapat dicapai bila guru ahli (expert) dalam melakasnakan tugas, dan selalu mengembangkan diri (growth). Glatthorm (1990) mengemukakan bahwa dalam melihat profesionalisme guru, disamping kemampuan dalam melaksanakan tugas, juga perlu mempertimbangkan aspek komitmen dan tanggung jawab (responsibility), serta kemandirian (autonomy)..

Membicarakan tentang profesionalisme guru, tentu tidak bisa dilepaskan dari kegiatan pengembangan profesi guru itu sendiri. Secara garis besarnya, kegiatan pengembangan profesi guru dapat dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu: (1) pengembangan intensif (intensive development), (2) pengembangan kooperatif (cooperative development), dan (3) pengembangan mandiri (self directed development) (Glatthorm, 1991).

Pengembangan intensif (intensive development) adalah bentuk pengembangan yang dilakukan pimpinan terhadap guru yang dilakukan secara intensif berdasarkan kebutuhan guru. Model ini biasanya dilakukan melalui langkah-langkah yang sistematis, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi dan pertemuan balikan atau refleksi. Teknik pengembangan yang digunakan antara lain melalui pelatihan, penataran, kursus, loka karya, dan sejenisnya.

Pengembangan kooperatif (cooperative development) adalah suatu bentuk pengembangan guru yang dilakukan melalui kerja sama dengan teman sejawat dalam suatu tim yang bekerja sama secara sistematis. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan profesional guru melalui pemberian masukan, saran, nasehat, atau bantuan teman sejawat. Teknik pengembangan yang digunakan bisa melalui pertemuan KKG atau MGMP/MGBK. Teknik ini disebut juga dengan istilah peer supervision atau collaborative supervision.

Pengembangan mandiri (self directed development) adalah bentuk pengembangan yang dilakukan melalui pengembangan diri sendiri. Bentuk ini memberikan otonomi secara luas kepada guru. Guru berusaha untuk merencanakan kegiatan, melaksanakan kegiatan, dan menganalisis balikan untuk pengembangan diri sendiri. Teknik yang digunakan bisa melalui evaluasi diri (self evaluation) atau penelitian tindakan (action research).