Penampilan seseorang secara utuh dapat digambarkan dalam bentuk lingkaran berlapis-lapis. Yang menjadi inti, yang paling dalam, adalah jati diri. Bagian luarnya terdapat karakter yang ter- susun atas dua lapis yakni karakter inti, dan karakter lainnya. Serta yang paling luar adalah kepribadian sebagai potret perilaku.
Jati diri berasal dari bahasa jawa: Sejatining diri yang berarti diri kita sesung- guhnya, hakikat atau fitrah manusia juga disebut nur ilahi yang berisikan si- fat-sifat dasar manusia yang murni dari Tuhan yang berisikan percikan-percikan sifat ilahiah dalam batas kemampuan insani. Inilah potensi kebaikan anugerah Tuhan yang memancar dari dalam diri.
Jati diri dapat memancar dan ditumbuhkembangkan selama persyaratannya dipenuhi. Persyaratan utama agar jati diri memancar adalah hati yang bersih dan sehat. Hati bersih akan memancarkan jati diri secara murni sesuai fitrah kebaikan manusia. Pada dasarnya semua manusia itu baik sesuai fitrah yang diberikan Tuhan. Sebaliknya apabila hati kotor dan penuh penyakit, akan terjadi sumbatan sehingga jati diri tidak memancar apalagi ditumbuhkembangkan. Hal inilah yang menghasilkan penampilan tidak tulus ikhlas, tidak sungguh-sung- guh, senang semu, senyum palsu, dan sebagainya.
Pancaran jati diri akan tampak dari nilai-nilai yang terpatri dalam diri seseorang. Nilai-nilai ini melandasi sistem daya juang yang menjadi pondasi dalam cara berpikir, cara bersikap dan berperilaku. Inilah yang kemudian disebut sebagai karakter, yang berada pada lapisan luar jati diri. Karakter bukan bawaan lahir, karenanya dapat dikuatkan sesuai jati diri, dan dirangsang oleh lingkungan.
Begitu banyak nilai karakter yang dapat diidentifikasi. Namun, terdapat setidak- nya empat nilai yang menjadi nilai karakter inti, yakni jujur, tanggungjawab, disiplin dan peduli. Nilai inti inilah yang melandasi nilai karakter lain dan peri- laku yang ditampilkan. Oleh karena itu, nilai inti inilah yang kemudian disebut sebagai “nilai karakter pembentuk integritas”.
Pada bagian terluar dari potret diri seseorang adalah kepribadian, yang merupakan perilaku yang ditampilkan. Kepribadian ini bisa konsisten dengan karakter dan jati diri, bisa juga tidak. Inilah yang membedakan seseorang berintegritas atau tidak.
Integritas sendiri merupakan kesesuaian antara suara hati nurani sebagai kebe- naran, pola pikir untuk hidup benar, tekad yang kuat untuk mewujudkan hidup benar, ucapan, dan perilaku yang ditampilkan. Ketika keempat nilai inti ini kuat terpancar dari dalam nurani, dan konsisten dalam perilaku yang ditampilkan, dapat dipastikan seseorang berintegritas. Kesesuaian inilah yang menimbulkan keselarasan hidup dan harmoni. Inilah landasan kebahagiaan hidup.
Sebaliknya apabila keempat nilai inti ini lemah sehingga tidak terpancar dalam perilaku, maka yang bersangkutan tidak berintegritas. Lain di bibir lain di hati. Beda antara kata dan perbuatan. Yang demikian ini menjauhkan diri dari ke- tenangan jiwa dan kebahagiaan.
Di mana posisi pendidikan karakter? Pendidikan karakter berhubungan dengan penguatan nilai-nilai dalam diri seseorang. Disinilah “nilai karakter pembentuk integritas” menjadi kunci yang sangat penting. Jika nilai pembentuk integritas kuat sebagai pancaran jati diri, maka karakter lain akan kuat dan kepribadian seseorang akan benar-benar mencerminkan sebagai manusia beradab dan ber- martabat, bukan kepalsuan.






0 comments:
Post a Comment