Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, mem- bimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pen- didikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Inilah definisi guru dalam lembar-lembar peraturan. Pada modul ini, kita mengesampingkan dulu definisi itu, marilah kita menukik jauh ke dalam diri untuk merenungi hakikat guru.
a. Hakikat Guru
Kata “guru” berasal dari bahasa Sansekerta. “GU” berarti gelap, dan “RU” ber- arti membawa terang atau mengusir kegelapan. Berarti, secara maknawi, Guru adalah orang yang senantiasa memerangi kegelapan dan membawa terang. Semakin gelap suasana di sekitarnya, semakin bermakna kehadirannya. Jika seorang guru memilih bertahan dalam suasana yang sudah terang, maka lama kelamaan eksistensinya menjadi hilang. Untuk itu, setelah selesai menerangi yang gelap, carilah situasi yang lebih gelap, karena di sanalah kehadiran anda ditunggu dan memberi makna.
Bagi seorang guru, sumber belajar utama adalah persoalan-persoalan yang mun- cul dari peserta didik. Respon yang ditunjukkan oleh peserta didik dalam proses pembelajaran, ada yang taat, terpaksa, melawan, bandel, atau menunjukkan reaksi yang tidak kita inginkan, semua itu adalah sumber belajar bagi guru untuk menemukan cara-cara efektif mengembangkan potensi diri anak.
Ini suatu bukti bahwa semakin kita berada dalam persoalan yang berat, sema- kin besar peluang kita untuk mendapatkan ilmu mendidik dan keberkahan dari profesi yang kita jalani. Semua itu bermuara pada kebahagiaan. Profesi guru itu seperti ladang amal tanpa batas. Keberkahan mengalir tak pernah berhenti sampai kapanpun, bahkan ketika sang guru sudah tiada. Masihkan kita setengah hati menjalankan profesi ini?
Pekerjaan utama sebagai guru, selama ini dianggap hanyalah menyampaikan materi ajar melalui ceramah di depan kelas, sampai anak menguasai dan kemu- dian diuji melalui hafalan. Tanpa peduli pada respon anak. Padahal, menga- jarkan hafalan-hafalan ilmu pengetahuan, sama sekali tidak memberi manfaat sebagai bekal hidup anak di zamannya dan mendorong anak untuk mencari jalan pintas agar mendapatkan nilai baik. Bekal hafalan pengetahuan sangatlah tidak relevan dan menghabiskan waktu dengan sia-sia.
Tugas guru justru memberi ruang yang luas kepada peserta didik untuk terus berkarya menggunakan segala sumber daya yang ada. Mereka berkreasi ten- tang segala hal yang mereka minati, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya un- tuk menumbuhkan sikap kreatif, disiplin, produktif, ulet, sehingga mereka tidak tertarik untuk menempuh jalan pintas dan mental menerabas. Dengan demikian, akan tumbuh kesadaran dari nuraninya untuk menjadi pribadi yang tangguh dan siap menghadapi tantangan di zamannya.
Zaman akan terus berubah. Kompetensi orang untuk hidup juga terus berkem- bang. Kalau hanya mengajarkan materi ilmu pengetahuan hasil masa lalu se- bagai bekal hidup anak, maka hal itu mungkin tidak membantu anak mengha- dapi persoalan di masa depan. Oleh karena itu, guru semestinya membelajarkan prinsip dasar dari ilmu pengetahuan sebagai alat untuk memecahkan persoalan yang dihadapi anak kelak. Jadi yang dibelajarkan adalah “prinsip ilmu” bukan “materi ilmu”.
Selain dari prinsip ilmu, hal lain yang perlu dikuatkan dalam diri peserta didik adalah energi endogen dari dalam diri. Kekuatan endogen yang dapat menjadi bekal hidup di segala zaman adalah integritas. Inilah yang perlu menjadi fo- kus guru. Kapanpun, integritas akan menjadi kekuatan pribadi manusia yang dahsyat.
Anda pasti tahu di mana posisi guru dalam kehidupan manusia. Ia berperan da- lam menyiapkan kehidupan anak di masa depan. Ki Hajar Dewantara menyebut posisi guru adalah “tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak”. Dalam pengertian ini, pendidikan dimaksudkan untuk menuntun segala kekuatan kod- rat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-ting- ginya. Lagi-lagi, kuncinya adalah kebahagiaan.
Perannya yang begitu strategis, sehingga profesi guru dipandang mulia. Apakah anda merasakan hal itu? Marilah kira renungkan dalam-dalam. Di manakah po- sisi diri pribadi anda sekarang? Silahkan tentukan sesuai jati diri masing-masing.






0 comments:
Post a Comment